Senin, 02 Juli 2012

Cara Budidaya Jahe Yang Benar Agar Menuai Hasil Maksimal

Cara Budidaya Jahe
Budidaya Jahe
Jahe atau dalam bahasa latin Zingiber officinale adalah salah satu tanaman toga yang juga banyak dimanfaatkan sebagai penyembuh berbagai macam penyakit.

Jahe termasuk dlam grup rempah-rempah bersama dengan tanaman rimpang lainnya. Jahe adalah tanaman rimpang yang berbentuk seperti jari-jemari menggembung di bagian ruas tengahnya.

Jahe memiliki rasa yang pedas panas hal ini disebabkan karena adanya senyawa keton bernaman zingeron di dalam jahe tersebut.

Berdasarkan jenisnya, ukurannya, bentuk dan warna rimpangnya, jahe dibedakan menjadi tiga jenis varietas :
1. Jahe putih/kuning besar atau sering disebut jahe gajah atau jahe badak adalah jahe yang memiliki rimpang lebih besar dan gemuk, memiliki ruas rimpang yang lebih besar dan menggembung dari ke dua varietas lainnya. Jenis jahe gajah ini dapat dikonsumsi waktu masih muda atau sudah tua, baik masih segar atau sudah olahan.

2. Jahe putih/kuning kecil atau juga biasa disebut jahe sunti atau jahe emprit memiliki ciri-ciri ruas yang kecil agak rata dan ada juga yang agak menggembung. Jahe ini dapat dikonsumsi saat sudah masak benar. Jahe ini memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih banyak dari jahe gajah sehingga berasa lebih pedas dan memiliki serat yang lebih banyak. Jahe jenis ini sangat ccok digunakan sebagai ramuan obat-obatan

3. Jahe merah memiliki rimpang yang lebih kecil dan berwarna merah. Jahe merah dapat dikonsumsi saat sudah masak betul. Jahe merah memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih banyak dari jahe gajah dan sama seperti jahe putih/kuning kecil sehingga juga cocok sebagai ramuan obat-obatan.


Untuk membudidayakan jahe, maka harus memenuhi kriteria berikut ini

1. Iklim >> Tanaman jahe butuh curah hujan yang tinggi sekitar 2500 sampai 4000 mm per tahun. Pada umur 2,5 bulan sampai 7 bulan atau lebih, tanaman jahe membutuhkan sinar matahari yang cukup dan sepanjang hari. Tanaman jahe butuh suhu udara optimum antara 20 sampai 35 derajat celcius.

2. Media Tanam >> Jika menginginkan tanaman jahe yang subur maka harus ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus dengan tekstur tanah menggunakan lempung berpasir, liat berpasir atau tanah laterik. Derajat keasaman tanah yang dibutuhkan untuk menumbuhkan tanaman jahe adalah 4,3 sampai 7,4. Khusus untuk jahe gajah hanya baik tumbuh dengan pH 6,8 sampai 7,0.

3. Ketinggian tempat >> Jahe sangat baik tumbuh pada ketinggian nol sampai 2000 m dpl. Sedangkan khusus di Indonesia jahe paling baik ditanam pada ketinggian 200 sampai 600 m dpl.


Pembibitan dalam budidaya jahe

Bibit jahe yang berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik yaitu prosentase tumbuh yang tinggi, dan mutu fisik. Mutu fisik maksudnya adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Kriteria bibit yang harus dipenuhi adalah :

1. Bahan bibit harus diambil langsug dari kebun bukan membeli dari pasar.

2. Bahan bibit harus sudah tua yaitu yang berumur 9-10 bulan.

3. Bahan bibit harus dari tanaman yang sehat yang memiliki kulit rimpang yang tidak terluka atau lecet.


Teknik penyemaian bibit

Agar tanaman jahe dapat tumbuh serentak dan seragam, bibit tidak boleh langsung ditanam tetapi harus dikecambahkan terlebih dahulu hal ini disebut proses penyemaian bibit. Penyemaian bibit dapat dilakukan melalui media peti kayu atau bedengan. Berikut ini penjelasannya :

1. Penyemaian pada peti kayu >> Jemur rimpang jahe yang barusan dipanen, jangan terlalu kering. Lalu simpan sekitar 1 sampai 1,5 bulan. Potong rimpang dengan cara mematahkan dengan tangan, setiap potongan kira-kira 3 sampai 5 mata tunas. Jemur kembali rimpang selama setengah atau satu hari. Kemas potongan bakal bibit kedalam karung beranyaman jarang, lalu celup d alam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar satu menit lalu keringkan.

Setelah kering, masukkan bibit kedalam peti kayu. Cara untuk menyemai bibit dengan peti kayu adalah : pada bagian dasar letakkan bakal bibit selapis kemudian atasnya beri abu gosok atau sekam padi lalu abu gsok lagi dan seterusnya sampai yang paling atas adalah abu gsok atau sekam padi tersebut. Tunggu sampai 2 minggu atau satu bulan, maka bibit jahe tersebut sudah disemai. 

2. Penyemaian pada bedengan >> Buatlah rumah penyemaian ukuran 10m X 8m yang mampu menampung bibit 1 ton yaitu jika diukur untuk pembudidayaan jahe gajah maka harus memenuhi kebituhan jahe gajah seluas 1 ha. Buat bedengan dari tumpukan jerami  setebal 10 cm dalam rumah bedengan tersebut. Susun rimpang pada bedengan jerami lalu tutupi dengan jerami kemudian susun lagi rimpang diatasnya lalu tutup lagi begitu seterusnya sampai empat lapis dimana bagian atas adalah jerami.

Siram bibit setiap hari dan sesekali semprot engan fdungisida. Setelah dua minggu maka rimpang akan bertunas. Pilih bibit yang bertunas dengan kualitas baik lalu patahkan bibit antara 3-5 mata tunas dengan berat 40-60 grm.

Persiapan Bibit
Sebelum bibit ditanam, pastikan dahulu bibit bebas dari ancaman penyakit yaitu dengan cara memasukkan bibit ke dalam karung dan celupkan kedalam larutan fungisida sekitar delapan jam. Lalu jemur bibit selama 2 sampai 4 jam. Barulah bibit dapat ditanam

Pengolahan media tanam
1. Persiapan lahan >> Pastikan syarat-syarat tumbuh tanaman jahe terpenuhi seperti keasaman tanah dan kesuburan tanah harus pas.

2. Pembukaan lahan >> Bajak tanah sedalam 30 cm agar tanah gembur dan bebas dari tanaman pengganggu, setelah itu biarkan selama 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap, bibit penyakit dan hama juga akan mati terkena sinar matahari. Jika belum cukup juga maka olah tanah seperti sebelumnya selama 2-3 minggu dan beri pupuk kandang dengan dosis 1500-2500 kg.

3. Pembentukan bedengan >> Jika kondisi tanah jelek dan untuk mencegah terjadinya gengan air, ada bagusnya olah tanah menjadi bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm dan lebar 80-100.

4. Pengapuran >> Pengapuran dilakukan pada tanah dengan pH rendah agar tanah tidak terlalu masam karena jika tanah terlalu masam, terutama phospor dan calcium sulit diserap maka akan menyebabkan penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga bertujuan untuk menambah unsur Kalium yang berfungsi untuk memperkeras bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan serabut akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.

Berikut ini daftar kebutuhan dolomit dibanding dengan derajat keasaman tanah agar pH tanah pas:

1. pH kurang dari 4 ( keadaan paling asam ) kebutuhan dolomit > 10 ton / ha.

2. pH = 5 (asam) membutuhkan dolomit sekitar 5,5 ton / ha.

3. pH = 6 (agak asam) membutuhkan dolomit sekitar 0,8 ton / ha.


Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Sebaiknya budidaya jahe dilakukan dengan cara tumpang sari karena memiliki keuntungan sebagai berikut :

a. Mengurangi resiko rugi akibat naik turunnya harga di pasaran.

b. Menekan biaya operasional pemeliharaan tanaman.

c. Meningkatkan produktivitas lahan.

d. Mengawetkan tanah dan memperbaiki sifat fisik tanah. 

Biasanya tanaman jahe ditumpangsarikan dengan sayur-mayur dan palawija seperti bawang merah, jagung, kacang tanah, ketimun, buncis, cabe rawit dan lainnya.

2. Pembuatan Lubang Tanam >> Agar pertumbuhan tanaman jahe bagus maka sebaiknya tanah dibuat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3 sampai 7,5 cm untuk menanam bibit.

3. Cara menanam >> Cara penanaman bibit rimpang yaitu dengan merebahkannya ke dalam lubang yang telah dibuat. 

4. Perioda Tanam >> Perioda tanam paling baik yaitu dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober karena saat itu tanaman muda dapat menyerap air lebih banyak.

Pemeliharaan Tanaman

1. Penyulaman >> Penyulaman dilakukan untuk memilah rimpang yang mati dan segera dilakukan penyulaman agar tidak tertinggal dengan tanaman yang lain.

2. Penyiangan >> Penyiangan dilakukan saat umur tanaman jahe 2-4 minggu kemudian lanjut ke 3-6 minggu sekali. Saat umur jahe 6-7 bulan sebaiknya jangan dilakukan penyiangan sebab rimpang sudah mulai membesar.

3. Pembubunan >> Pembubunan dilakukan untuk menggemburkan tanah dan menimbun kembali rimpang jahe yang kadang muncul.

4. Pemupukan >> Pemupukan dilakukan dengan berbagai macam diantaranya :

                a. Pemupukan organik >> Dilakukan dengan memberikan pupuk kompos organik atau pupuk kandang.

                b. Pemupukan konvensional >> Dilakukan dengan memberikan pupuk organik, pupuk kandang dan pupuk buatan

5. Pengairan dan Penyiraman >> Pada masa awal tumbuh tanaman jahe memerlukan banyak air tetapi saat pertumbuhannya tidak dibutuhkan terlalu banyak air.

6. Pemberantasan Hama >> Pemberantasan hama dilakukan dengan melakukan penyemprotan pestisida. Biasanya dicampur dengan pupuk organik cair dan vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe.

HAMA DAN PENYAKIT

Hama dan Penyakit yang sering mengganggu tanaman jahe antara lain :

1. Kepik

2. Ulat penggesek akar

3. Kumbang

Penyakit yang biasanya menyerang adalah :

1. Penyakit layu bakeri yaitu penyakit pada tanaman jahe dengan ciri-ciri daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian warnanya berubah dari hijau menjadi kuning dan mengering.Disusul tunas pada batang menjadi busuk dan tanaman mati. Biasanya tanaman akan diserang penyakit ini pada umur 3-4 bulan. Penyakit ini muncul karena kondisi tanah yang lembab, suhu udara yang dingin dan adanya genangan air. Cara mengendalikannya adalah dengan jaminan kesehatan bibit jahe; karantina tanaman jahe yang terkena penyakit; pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik; pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%).

2. Penyakit busuk rimpang yaitu penyakit yang masuk melalui luka pada rimpang dengan gejala daun bagian bawah berubah mejadi kuning dan layu akhirnya mati. Cara menanganinya yaitu dengan memilih bibit yang sehat, menerapkan pola tanam yang baik dan penggunaan fungisida untuk membasmi jamur.

3. Penyakit bercak daun yaitu penyakit yang dapat menular melalui angin dengan ciri-ciri daun timbul bercak-bercak dan selanjutnya berwarna abu-abu, ditengahnya terdapat bintik hitam dan pinggirnya busuk basah. Bercak daun ini dapat mematikan tanaman.

Gulma yang sering menyerang adalah rumput teki, alang-alang, ageratum dan gulma berdaun lebar lainnya.

Pengendalian hama/ penyakit secara organik yaitu mengikuti PHT (Pengendalian Hama Terpadu) :

   1. Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman.

   2. Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.

   3. Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

   4. Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.

   5. Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.

   6. Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Tanaman yang biasa digunakan sebagai pestisida nabati adalah :

1. Tembakau

2. Piretrum

3. Tuba

4. Neem tree atau mimba

5. Bengkuang

6. Jeringau

PANEN

Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua. Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.

Cara Panen
Cara panen yang baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.

Periode Panen Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni-Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.

Perkiraan Hasil Panen
Produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.

Itulah ulasan mengenai budidaya jahe yang benar semoga dapat membantu memberikan informasi pada anda. terima kasih telah mengunjungi blog www.tanaman-toga-123.blogspot.com

Baca juga :
Khasiat dan manfaat buah mengkudu
Khasiat Kunyit Bagi Kesehatan
Manfaat Kunyit Putih Si Pencegah Kanker
Tujuh Khasiat Temulawak dan Pantangannya
Manfaat Temulawak dan Cara Mengolahnya
Manfaat Mengkudu Si Buah Ajaib